Konsep Indonesia (KonsepIndo) Research & Consulting

Prabowo Berat Kejar Elektabilitas Jokowi

Prabowo Berat Kejar Elektabilitas Jokowi

3 Januari 2019
|

JAKARTA – Tahun 2019 telah tiba dan hari-hari menjelang pemungutan suara pilpres semakin seru. Masing-masing kubu terus bergerak, melakukan kampanye semaksimal mungkin dengan harapan bisa merebut suara dari pemilih baru maupun dari pemilih yang belum menentukan pilihan.

Banyak kreasi dan inovasi kampanye dilakukan kedua kubu. Pada beberapa kasus, tampak sekali terjadi saling serang bahkan tidak jarang yang muncul ke permukaan justru perang makian bukan kritik program.

Pengamat politik yang juga Direktur Konsepindo Research and Consulting, Veri Muhlis Arifuzzaman menilai pilpres April mendatang sebenarnya sudah bisa diprediksi pemenangnya. Sisa waktu sekitar 104 hari ke depan cukup berat bagi penantang untuk mengejar ketertinggalan. Sebagaimana diketahui survei selama dua tahun terakhir, elektabilitas Jokowi selalu lebih tinggi dari Prabowo.

“Untuk mengejar ketertinggalan ini diperlukan usaha keras, karena yang tersisa untuk dibidik tinggal suara pemilih pemula dan pemilih bingung,” ujarnya kepada para wartawan, Rabu (2/1/2019).

Veri menjelaskan, yang terjadi dalam pilpres kali ini adalah rematch. Capres tahun 2014 dan tahun 2019 sama orangnya, yakni Joko Widodo melawan Prabowo Subianto. Dulu, waktu kedua orang ini sama-sama belum bekerja sebagai presiden, sama-sama nihil pengalaman memimpin negara, Jokowi memenangkan kontestasi. Kini saat pertandingan ulang berlangsung, modal Jokowi jauh lebih meyakinkan.

“Jokowi sudah bekerja sebagai presiden selama empat tahun. Tentu sudah banyak yang dikerjakan selama kepemimpinannya itu. Pengalaman dan kerja nyata ini akan jadi modal yang sama sekali tak bisa ditandingi oleh Prabowo. Sederhannya, di pilpres 2014 saat modalnya sama, yakni sama-sama belum berpengalaman sebagai presiden, Jokowi berhasil memenangkan kontestasi, apalagi sekarang dan ini semua terkonfirmasi oleh hasil survei yang dirilis beberapa lembaga survei,” ujarnya.

Veri menganalisa, rata-rata survei menemukan elektabilitas Jokowi sudah berada di atas batas psikologis kemenangan yakni 54 persen. Angka ini berada di atas raihan suara Jokowi pada pilpres 2014 yakni 53,15 persen. Menurutnya, karena posisinya rematch atau pertarungan ulang maka kecenderungan pendukungnya juga demikian, mereka akan kembali mendukung calonnya.

“Saya kira pendukung lama Jokowi patut diduga sudah memutuskan kembali memilihnya. Sementara, pemilih baru atau pemilih yang di pilpres lalu golput ada kecenderungan menjadi penambah suara. Itulah mengapa suara yang diperebutkan tinggal sedikit. Jokowi juga masih punya kans menambah pendukung dari kelompok undecided voters dan jika itu terjadi kelompok sasaran Prabowo semakin sempit,” ungkapnya.

Debat kandidat yang akan digelar beberapa waktu ke depan menurut Veri hanya akan menguatkan keyakinan masing-masing pendukung. Sama seperti kampanye yang berlangsung beberapa bulan belakangan yang dilihatnya hanya saling menguatkan keyakinan pendukungnya masing-masing.

“Jadi praktis yang diperebutkan memang tinggal pemilih pemula dan sedikit pemilih mengambang yang membutuhkan sentuhan kampanye lebih dalam. Keduanya jenis pemilih itu tampaknya ada dalam kelompok undecided voters dalam temuan-temuan survei ,” pungkasnya.

Pada pilpres 2014 yang lalu Jokowi meraih suara sebanyak 70.997.85 suara (53,15 persen) sementara Prabowo meraih 62.576.444 suara (46,85 persen) selisih suara keduanya adalah 8.421.389 (6,3 persen).

 

Sumber: Sindonews